KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak
nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji
hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul ”JUDUL MAKALAH TRANSISTOR”. Dalam
penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang
tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih,
dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari
makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Sejarah Transistor
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Transistor
2.2 Transistor Sebagai Saklar
2.3 Fungsi Transistor
2.4 Jenis Jenis Transistor
2.5 Transistor Sebagai Penguat
2.6 Cara Kerja Transistor
BAB
III PEMBAHASAN
3.1
Kesimpulan
3.2
Saran
3.3
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Sejarah
Transistor
Sejarah transistor pada awalnya di
temukan oleh William Shockley dan John Barden pada tahun 1948.
Transistor awal mulanya di pakai dalam praktek pada tahun 1958. Pada saat ini
ada dua jenis tipe transistor, yaitu transistor tipe P – N – P dan transistor
jenis N – P – N. Dalam rangkaian difital, transistor di gunakan sebagai saklar
untuk kecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat di rangkaian sedemikian
rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memory dan komponen lainnya.
Kebanyakan ahli sejarah mengira
bahwa dunia elektronika dimulai ketika Thomas Alpha Edison menemukan
bahwa filamen panas memancarkan elektron (1883). Untuk merealisasi nilai
komersial dari penemuan Edision, Fleming mengembangkan dioda hampa (1904).
Deforest menambahkan elektroda ketiga untuk mendapatkan trioda hampa (1906).
Sampai 1950, tabung hampa mendominasi elektronik; mereka digunakan dalam
penyearah, penguat, osilator, modulator, dan lain-lainnya.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan
berkurangnya penggunaan tabung hampa dimasa sekarang ini. Hal ini dapat dilihat
dari perbedaannya yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan transistor
begitu pula dengan kelebihan dan kekurangannya.
Perbedaan tabung hampa dengan transistor adalah sebagai
berikut:
1. Pada tabung hampa:
Tabung hampa mempunyai fisik besar dan kurang praktis.
Tabung hampa mempunyai tiga kaki yang terdiri dari Anoda,
Katoda, dan Kasa kemudi. Tabung hampa banyak terbuat dari kaca sehingga
rangkaian di dalamnya tampak dengan nyata. Tabung hampa tidak tahan terhadap
goncangan. Memerlukan Tegangan atau energi yang cukup besar.
2. Pada transistor:
Bentuk fisik kecil dan praktis.
Transistor mempunyai tiga kaki yan terdirti dari: Basis,
Kolektor, dan Emitor.
Rangkaian dalam transistor tak kelihatan dari luar karena
terbungkus plat atau mika.
Transistor than terhadap goncangan.
Transistor hanya membutuhkan tegangan atau energi listrik
yang minimum, hanya kira-kira beberapa volt saja.
Sejak ditemukannya transistor maka terjadilah revolusi di
dalam dunia elektronika, karena transistor memiliki keuntungan yang lebih
dibanding tabung hampa. Namun pada dasarnya, antara tabung hampa dengan
transistor hampir sama dengan tabung elektroda atau tabung elektron. Persamaan
ialah pada kakinya sebagai berikut:
Katoda = Emitor
Anoda = Kolektor
Kasa kemudi = Basis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Transistor
Pengertian Transistor adalah
komponen elektronika terbuat dari alat semikonduktor yang banyak di pakai
sebagai penguat, pemotong (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal
dan masih banyak lagi fungsi lainnya. Pengertian Transistor pada alat
semikonduktor mempunyai 3 elektroda (triode), yaitu dasar (basis), pengumpul
(kolektor) dan pemancar (emitor).
Pada dasarnya transistor juga memiliki banyak kegunaan,
salah satunya adalah berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET) memungkinkan mengalirkan arus
listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Tegangan yang
memiliki satu terminal contohnya adalah Emitor yang dapat di pakai untuk
mengatur arus dan tegangan yang lebih besar dari pada input basis.
Dalam sebuah rangkaian analog, komponen transistor dapat di
gunakan dalam penguat (amplifier). Komponen yang terdapat dalam rangkaian
analog antara lain pengeras suara, sumber listrik stabil dan penguat sinyal
radio. Jadi pengertian transistor dapat di bilang sebagai pemindahan atau
peralihan bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu tertentu.
Pengertian transistor merupakan komponen yang sangat penting
dan di perlukan untuk sebuah rangkaian elektronika. Tegangan yang terdapat pada
transistor merupakan tegangan satu terminal, misalnya emitor yang dapat di
pakai untuk mengatur arus dan tegangan inputnya, memungkinkan pengaliran
listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.
Cara kerja transistor hampir mirip dengan cara kerja
resistor, yang juga memiliki tipe tipe dasar yang modern. Pada saat ini ada 2
tipe dasar transistor modern, yaitu tipe Bipolar Junction Transistor (BJT) dan
tipe Field Effect Transistor (FET) yang memiliki cara kerja berbeda beda
tergantung dari kedua jenis tersebut.
2.2
Transistor Sebagai Saklar
Transistor Sebagai Saklar maksudnya
adalah penggunaan transistor pada salah satu kondisi yaitu saturasi dan cut
off. Pengertiannya adalah jika ada sebuah transistor berada dalam keadaan
saturasi maka transistor tersebut akan seperti saklar tertutup antara colector
dan emiter, sedangkan apabila transistor dalam keadaan cut off transistor
tersebut akan berlaku seperti saklar terbuka.
Pengertian dari Cut off adalah kondisi transistor di mana
arus basis sama dengan nol, arus output pada colector sama dengan nol,
sedangkan tegangan pada colector maksimal atau sama dengan tegangan supply.
Saturasi adalah kondisi di mana transistor dalam keadaan arus basis adalah
maksimal, arus colector adalah maksimal dan tegangan yang di hasilkan
colector-emitor adalah minimal.
Apabila terdapat rangkaian transistor sebagai saklar banyak
menggunakan jenis transistor NPN, maka ketika basis di beri tegangan tertentu.
Transistor akan berada dalam kondisi ON, sedangkan besar tegangan pada basis
tergantung dari spesifikasi transistor itu sendiri. Dengan cara mengatur bias
sebuah transistor menjadi jenuh, maka seolah akan di dapat hubungan singkat
antara kaki colector dan emitor.
Terminal basis akan dengan cepat mengontrol arus yang
mengalir dari colector menuju emitor. Arus yang di hasilkan dari tegangan
input akan menyebabkan transistor saturasi menjadi saklar tertutup, akibat dari
kejadian ini arus akan mengalir dari colector ke emitor. Pada saat kondisi
tegangan colector emitor mendekati 0 volt.
Sebaliknya jika tegangan transistor sebagai saklar tidak di
berikan arus tegangan, maka transistor akan berada dalam kondisi Cut off dan
terminal colector emitor terputus seolah sakalar menjadi terbuka. Akibat dari
pemutusan ini arus tidak akan mengalir dari colector menuju emitor. Dalam
kondisi ini tegangan yang di hasilkan akan maksimal.
Kalau misalkan transistor di pakai hanya pada dua titik,
yaitu titik putus dan titik saturasi, maka transistor akan di pakai sebagai
saklar. Daya yang di serap oleh dua titik ini sangat kecil, tetapi dalam
keadaan aktif daya yang di serap transistor akan lebih besar. Sebab pemakaian
yang mana menggunakan arus lebih besar harus di upayakan agar daerah yang di
lewati aktif, sehingga transistor tidak menjadi terlalu panas.
2.3 Fungsi
Transistor
Fungsi Transistor dalam suatu
rangkaian elektronika, terutama dalam sebuah sirkuit atau jalan sebuah
rangkaian. Secara keseluruhan fungsi transistor hanya sebagai jangkar dalam
suatu komponen. Transistor merupakan komponen elektronika yang memiliki 3
kaki,di mana dari masing masing kaki di beri nama dengan basis (B), colector
(C) dan emitor (E).
Transistor adalah sebuah alat semikonduktor yang bisa di
pakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung tegangan
(switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal dan sebagai fungsi lainnya.
Transistor sendiri juga dapat kita jadikan semacam kran listrik , di mana
berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET) dapat memungkinkan
pengaliran arus listrik yang sangat akurat dari sumber listriknya.
Fungsi transistor juga dapat kita bedakan menjadi 2 bagian,
yaitu transistor bagian PNP dan transistor bagian NPN. Untuk dapat membedakan
antara transistor PNP dan transistor NPN dapat kita lihat dari arah panah pada
kaki emitornya. Contohnya adalah transistor PNP yang anak panahnya mengarah ke
dalam dan transistor NPN arah panahnya mengarah ke luar.
Fungsi transistor memang sangat penting dalam dunia
elektronika modern. Khususnya dalam rangkaian analog, di mana transistor di
gunakan dalam amplifier atau penguat. Di dalam rangkaian analog meliputi
pengeras suara, sumber listrik stabil dan juga penguat sinyal radio.
Sedangkan dalam rangkaian digital, transistor banyak di
gunakan sebagai saklar yang memiliki kecepatan tinggi. Dari beberapa transistor
juga dapat kita rangkai sedemikian rupa sehingga sebuah transistor yang kita
rangkai tadi berfungsi sebagai logic gate, memory dan komponen komponen
lainnya.
Cara kerja transistor sangat berbeda dengan komponen penguat
lainnya, seperti tabung elektronik yang kemampuannya dapat berkembang
secara berkala tergantung dari bentuk fisik yang di miliki oleh transistor itu
sendiri. Itu sebabnya transistor menjadi pilihan utama para penghobi
elektronika dalam menyusun konsep rangkaian.
Sekarang ini fungsi transistor banyak yang sudah
terkontaminasi dan di satukan dari beberapa jenis transistor menjadi satu buah
komponen yang lebih kompleks yang dalam dunia elektronika biasa di sebut dengan
Integrated Circuit (IC). IC mempunyai cara kerja dan kemampuan yang lebih
sederhana, tetapi mempunyai bentuk fisik yang ringkas sehingga tidak banyak
memakan tempat
2.4 Jenis
Jenis Transistor
Jenis-Jenis Transistor yang paling umum di bedakan menjadi
dua jenis, yaitu Transistor Bipolar dan Transistor Efek Medan. Jenis-Jenis
Transistor ini sangat menentukan sekali dalam pembuatan rangkaian elektronika.
Terutama untuk pembuatan rangkaian amplifier, rangkaian saklar, general
purpose, rangkaian audio, tegangan tinggi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Transistor Bipolar atau nama lainnya adalah transistor
dwikutub adalah jenis transistor paling umum di gunakan dalam dunia elektronik.
Di dalam transistor ini terdapat 3 lapisan material semikonduktor yang terdiri
dari dua lapisan inti, yaitu lapisan P-N-P dan lapisan N-P-N. Transistor
bipolar juga memiliki 3 kaki yang masing masing di beri nama Basis (B),
Kolektor (K) dan Emiter (E). Perbedaan antara fungsi dan jenis-jenis transisor
ini terlihat pada polaritas pemberian tegangan bias dan arah arus listrik yang
berlawanan.
Cara kerja transistor bipolar dapat di lihat dari dua dioda
yang terminal positif dan negatif selalu berdempet, itu sebabnya pada saat ini
terdapat 3 kaki terminal. Perubahan arus listrik dari jumlah kecil dapat
menimbulkan efek perubahan arus listrik dalam jumlah besar khususnya pada
terminal kolektor. Prinsip kerja ini lah yang mendasari penggunaan transistor
sebagai penguat elektronik.
Transistor Efek Medan atau biasa di singkat FET adalah
transistor yang juga memiliki 3 kaki terminal yang masing masing di beri nama
Drain (D), Source (S) dan Gate (G). Sistem kerja FET adalah dengan cara
mengendalikan aliran elektron dari terminal Source ke Drain melalui tegangan
yang di berikan pada terminal Gate.
Pada saat ini jenis-jenis transistor FET di bagi menjadi dua
tipe, yaitu enhancement mode dan depletion mode. Kedua mode ini menandakan
polaritas tegangan gate di bandingkan dengan source pada saat FET menghantarkan
listrik. Sebagai contoh dalam depletion mode, di sini gate adalah negatif di
bandingkan dengan source, sedangkan dalam enhancement mode, gate adalah positif.
Jika tegangan pada gate di rubah menjadi positif, maka aliran arus kedua mode
di antara source dan drain akan meningkat.
2.5
Transistor Sebagai Penguat
Transistor Sebagai Penguat adalah
salah satu fungsi transistor selain transistor sebagai saklar. Pada saat ini
penggunaan transistor sebagai penguat sudah banyak di gunakan dalam sebuah
perangkat elektronik. Contohnya adalah Tone Control, Amplifier (Penguat Akhir),
Pre-Amp dan rangkaian elektronika lainnya. Penggunaan transistor ini memang
sudah menjadi keharusan dalam komponen elektronika.
Transistor merupakan suatu komponen monokristal semi
konduktor di mana dalam komponen terdapat dua pertemuan antara P-N. Sehingga
kita dapat membuat dua rangkaian yaitu P-N-P dan N-P-N. Transistor merupakan
suatu komponen yang dapat memperbesar level sinyal keluaran sampai beberapa
kali sinyal masukan. Sinyal masukan disini dapat berupa sinyal AC ataupun DC.
Prinsip yang di gunakan dalam transistor sebagai penguat
adalah arus kecil pada basis digunakan untuk mengontrol arus yang lebih besar
yang diberikan ke Kolektor melewati transistor tersebut. Dari sini dapat kita
lihat bahwa fungsi dari transistor hanya sebagai penguat ketik arus basis akan
berubah. Perubahan arus kecil pada basis mengontrol inilah yang dinamakan dengan
perubahan besar pada arus yang mengalir dari kolektor ke
emitter. Kelebihan dari transistor penguat tidak hanya dapat menguatkan
sinyal, tapi transistor ini juga bisa di gunakan sebagai penguat arus, penguat
tegangan dan penguat daya. Berikut ini gambar yang biasa di gunakan dalam
rangkaian transistor khusunya sebagai penguat yang biasa di gunakan dalam
rangkaian amplifier sedehana.
Fungsi transistor sebagai saklar dengan memanfaatkan daerah
penjenuhan (saturasi) dan daerah penyumbatan (cutt-off). Pada saat saturasi
nilai resistansi penyambungan kolektor emitter secara ideal sama dengan nol
atau koklektor terhubung langsung. Dan pada saat cut-off nilai resistansi
penyambungan kolektor emitter secara ideal sama dengan tak terhingga atau
terminal kolektor dan emitter terbuka.
Suatu transistor sebagai penguat dapat bekerja secara
optimal maka titik penguat dengan transistor harus di tentukan dan juga
harus sama dengan yang di tentukan oleh garis beban AC/DC. Contohnya adalah
memiliki titik kerja di daerah cut-off, titik kerja berada di tengah-tengah
garis beban dan penguat kelas AB merupakan gabungan antara kelas A dan B yang
bekerja secara bergantian dengan tipe transistor PNP dan NPN
2.6 Cara
Kerja Transistor
Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada
dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor
bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara
berbeda.
Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi
utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk
membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu
daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini
dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus
utama tersebut.
FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan
satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam
FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion
zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah
Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan
ini dapat dirubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah
ketebalan kanal konduksi tersebut
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Transistor adalah komponen aktif
yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah
transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan
daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor
memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara
kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang
saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan
emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka
apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat
grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis
lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika
tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.
Saran
Saran
saya pada teman teman setelah membaca makalah ini yang berjudul Transistor,
Teman – teman dapat mempelajari Transistor yang di bahas dalam makalah ini,
Kemudian jika ada salah dalam penulisan, saya atas selaku penulis minta maaf sebesar
besarnya.